Keabadian Alam Semesta

322x dibaca

Menurut Aristoteles, alam semesta tidak bersifat sementara atau "ada mulai dan berakhir" seperti yang dikemukakan oleh beberapa filsuf pra-Sokratik, melainkan keabadian alam semesta adalah hal yang fundamental dalam pandangannya. Ia berargumen bahwa alam semesta adalah abadi dan tidak memiliki awal atau akhir yang benar-benar mutlak. Argumen ini dapat dipahami dalam beberapa konsep utama dalam filosofi metafisika Aristoteles, terutama melalui teori "Aktualitas dan Potensialitas" dan "Pergerakan dan Penyebab".

1. Alam Semesta Tidak Memiliki Awal dan Akhir (Keabadian Materi)

Aristoteles berargumen bahwa alam semesta adalah eternal (abadi) karena ia tidak bisa memiliki awal atau akhir yang sesungguhnya. Dalam pandangan Aristoteles, materi adalah abadi dan tidak dapat dihancurkan atau diciptakan dari ketiadaan. Materi yang ada sekarang sudah ada sejak "selalu ada" (eternitas materi) dan terus ada selama waktu tanpa ada perubahan yang mendasar. Ia menolak gagasan bahwa alam semesta harus diciptakan oleh sesuatu yang lebih tinggi, seperti dewa yang menciptakan segala sesuatu, karena bagi Aristoteles, alam semesta sudah ada sejak selamanya.

2. Konsep "Pergerakan Abadi" (Eternal Motion)

Dalam karya "Fisika" (Physics), Aristoteles menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta bergerak, tetapi pergerakan itu tidak dapat dimulai tanpa penyebab pertama. Ini membawa kita pada gagasan mengenai "Penyebab Utama" (Prime Mover atau Unmoved Mover), yang merupakan prinsip dasar dari pergerakan itu sendiri. Menurut Aristoteles, ada sesuatu yang menyebabkan segala sesuatu bergerak tanpa bergerak itu sendiri. Prinsip ini adalah Penyebab Utama yang Tidak Bergerak atau Unmoved Mover, yang tidak memerlukan penyebab lain dan merupakan kekal serta abadi.

  • Penyebab utama ini, yang sering diidentifikasi dengan "Tuhan" dalam filsafat Aristoteles, menyebabkan segala sesuatu bergerak, tetapi dirinya sendiri tetap tidak berubah dan abadi. Jadi, jika alam semesta bergerak selamanya, ia juga harus abadi, karena jika ada awal pergerakan, maka pasti ada penyebab sebelumnya yang lebih awal.

3. Aktualitas dan Potensialitas

Aristoteles menggunakan konsep aktualitas dan potensialitas untuk menjelaskan perubahan dan pergerakan dalam alam semesta. Potensialitas merujuk pada kemampuan sesuatu untuk berubah atau bergerak, sementara aktualitas adalah keadaan ketika sesuatu itu benar-benar terjadi. Menurut Aristoteles, segala perubahan atau pergerakan dalam alam semesta berasal dari potensi yang ada dalam materi, tetapi perubahan ini terjadi secara kontinu dan tidak ada titik awal yang mutlak. Karena itu, pergerakan dan perubahan adalah bagian dari sifat dasar alam semesta, dan ini membuktikan keabadiannya.

4. Alam Semesta sebagai Keseluruhan yang "Teratur"

Bagi Aristoteles, alam semesta adalah suatu totalitas yang teratur dan tidak dapat berakhir dalam hal yang mempengaruhi keseluruhan struktur dunia ini. Ia memandang bahwa segala sesuatu di dunia adalah bagian dari keseluruhan yang teratur dan terstruktur. Hal ini berarti bahwa perubahan atau pergerakan dalam alam semesta adalah bagian dari keseimbangan yang sudah ada sejak lama dan berlangsung tanpa ada awal yang memisahkan satu fase dari fase lainnya.

Kesimpulan

Dalam pandangan Aristoteles, keabadian alam semesta dapat dijelaskan melalui konsep bahwa materi itu sendiri abadi dan tidak dapat diciptakan dari ketiadaan, serta bahwa pergerakan dan perubahan dalam alam semesta tidak dapat dimulai tanpa adanya penyebab utama yang bersifat kekal dan tidak bergerak. Alam semesta selalu ada, dan ia merupakan sesuatu yang teratur dan kontinu tanpa adanya awal atau akhir yang mutlak.

Argumen Keabadian Alam Semesta yang diuraikan oleh Aristoteles sebenarnya sudah cukup jelas dan kuat. Walaupun demikian, Penyangkalan Terhadap Argumen Keabadian Alam Semesta tetap penting untuk dipertimbangkan.