
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Arga tak pernah bisa melepaskan pandangannya dari Naira. Setiap kali bel sekolah berbunyi dan anak-anak lain berlarian ke halaman bermain, Arga selalu berdiri di sudut, menatap Naira yang tersenyum ceria bersama teman-temannya. Perasaan yang ia rasakan bukan sekadar rasa suka biasa. Meski saat itu ia tak sepenuhnya mengerti, ia tahu hatinya selalu berdegup kencang ketika melihat Naira.
Hari demi hari berlalu, dan perasaan Arga terhadap Naira semakin tumbuh. Setiap kali ia melihat gadis itu, seakan dunia berhenti sejenak hanya untuk mereka. Namun, Arga tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Naira selalu tampak begitu jauh, seperti bintang di langit malam yang indah, namun tak bisa dijangkau.
Waktu terus berjalan. Mereka tumbuh dewasa, namun perasaan Arga tidak pernah berubah. Bahkan, di usia 19 tahun, ketika mereka sudah memasuki masa remaja akhir, rasa cintanya semakin kuat. Kini, Arga merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya yang telah lama ia pendam. Ia tidak bisa lagi menahan cinta yang selama bertahun-tahun tumbuh di dalam hatinya.
Dengan segala keberanian yang ia kumpulkan, suatu sore yang tenang, Arga mengajak Naira bertemu di taman dekat rumah mereka—tempat di mana mereka dulu sering bermain sebagai anak-anak. Taman itu kini menjadi lebih sepi, hanya ada mereka berdua yang duduk di bangku panjang yang dingin oleh embusan angin senja.
“Naira…” suara Arga bergetar saat memulai percakapan. Hatinya berdegup kencang, seperti saat ia pertama kali menyadari perasaannya bertahun-tahun lalu.
Naira menatapnya dengan tatapan penuh tanya, “Iya, Arga?”
“Sebenarnya... ada sesuatu yang sudah lama ingin aku katakan padamu,” Arga melanjutkan dengan suara serak. “Sejak kita kecil... aku selalu menyukaimu. Bahkan sampai sekarang, aku belum pernah berhenti mencintaimu.”
Detik-detik terasa seperti jam saat Arga menunggu respon dari Naira. Matanya penuh harapan, seolah-olah hidupnya bergantung pada jawaban gadis itu. Namun, Naira hanya terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menghela napas panjang.
“Arga...” Naira mulai berbicara dengan lembut. “Aku selalu menganggapmu sebagai teman baik. Kamu adalah orang yang sangat spesial di hidupku, tapi aku… aku tidak punya perasaan yang sama.”
Kalimat itu bagai duri yang menghujam hati Arga. Sejenak, dunia di sekelilingnya terasa runtuh. Semua kenangan, harapan, dan impian tentang masa depan bersama Naira seolah-olah hancur berkeping-keping di hadapannya. Arga tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya diam, berusaha menelan kenyataan pahit yang baru saja ia terima.
Naira tersenyum lembut, seolah-olah ingin menenangkan luka yang baru saja ia torehkan di hati Arga. “Aku berharap kita tetap bisa berteman, Arga. Kamu adalah orang yang sangat berarti buatku,” katanya sambil mengusap bahunya dengan lembut.
Arga hanya mengangguk, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahwa dunia tak akan pernah sama lagi. Cinta yang ia jaga begitu lama telah berakhir bahkan sebelum ia sempat benar-benar memulai. Ia tersenyum tipis, menutupi kesedihan yang tak tertahankan.
Setelah hari itu, hidup Arga berubah. Naira tetap menjalani hidupnya, sementara Arga tenggelam dalam kesendiriannya. Meski mereka tetap berteman, ada jarak yang tak lagi bisa dijembatani. Setiap kali Arga melihat Naira, kenangan tentang pengakuan cinta yang ditolak itu kembali menghantuinya.
Tahun-tahun berlalu. Naira melanjutkan hidupnya, jatuh cinta, dan menikah. Namun, Arga tetap terjebak dalam cintanya yang tak pernah tersampaikan. Ia mencoba menjalani hidupnya, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia di sekelilingnya, namun selalu ada ruang di hatinya yang kosong—ruang yang hanya bisa diisi oleh Naira, meskipun ia tahu itu tak mungkin.
Hingga usianya memasuki senja, Arga tidak pernah bisa melupakan Naira. Setiap kali ia melewati taman tempat ia dulu menyatakan cintanya, hatinya kembali terasa hampa. Penyesalan yang tidak pernah sirna, cinta yang tak pernah tergantikan. Di akhir hidupnya, Arga tetap menyimpan perasaan yang sama—cinta yang tak pernah sampai, namun tetap abadi di hatinya.
Di suatu hari yang sepi, ketika daun-daun berguguran, Arga duduk di bangku yang sama di taman itu. Kini, rambutnya telah memutih dan langkahnya tidak lagi kuat. Tapi hatinya, seperti dulu, masih mencintai Naira. Meski ia tahu cinta itu tak pernah terbalas, cinta itu tetap menjadi bagian dari dirinya, sebuah tragedi yang indah, sebuah cinta yang tak pernah padam.
Dan begitulah, Arga, seorang pria yang hidup dalam bayang-bayang cinta masa kecilnya, menutup hidupnya dengan cinta yang tak pernah ia lepaskan. Cinta sejati, namun juga sebuah cinta yang tragis, karena tak pernah bisa bersama dengan orang yang dicintainya.