Menghapus Cinta dengan Kata

156x dibaca

Asep menutup pintu pagar rumahnya perlahan. Hari itu ia pulang dari sekolah lebih cepat karena ada rapat OSIS yang dibatalkan. Kelas tiga SMA memang banyak tugas, namun Asep selalu menyempatkan waktu untuk belajar. Sejak kecil, ia bercita-cita menjadi seorang guru bahasa Inggris. Maka, hari-harinya diisi dengan membaca buku, menulis catatan, dan memperdalam pelajaran di rumah.

Di antara kesibukan itu, ada hal yang membuat hidupnya agak rumit: seorang gadis bernama Martita. Tita, begitu panggilannya, masih kelas satu SMA, dan ia jelas-jelas menaruh hati pada Asep. Awalnya, perhatian yang diberikan Tita terasa biasa saja bagi Asep, namun lama-kelamaan ia mulai merasa risih. Tita sering datang ke rumah tanpa diundang. Sekali dua kali, Asep mencoba menerima kehadirannya, namun semakin lama, Asep merasa terjebak dalam situasi yang sulit.

Tita memang menarik, namun Asep tak punya rasa lebih. Baginya, cinta bukan sekadar rasa kagum atau perhatian yang terus-menerus. Lebih dari itu, cinta adalah komitmen, pengertian, dan keselarasan hati, bukan kekaguman sepihak seperti yang Tita tunjukkan. Asep merasa, jika perasaannya dibiarkan berkembang, itu hanya akan menyakiti Tita di akhir cerita.

Ketika Tita kembali datang ke rumah pada suatu sore, Asep sudah memikirkan rencana. Daripada terus-menerus mencoba menghindarinya, Asep memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih halus namun efektif. Ia mengajak Tita belajar bahasa Inggris.

“Kita belajar bahasa Inggris saja, ya, Tita. Ini kan penting untuk masa depan,” ucap Asep sambil mengeluarkan buku catatan dari tasnya.

Tita tampak bingung dan sedikit kecewa. Ia jelas-jelas tidak datang untuk belajar. Tita berharap bisa menghabiskan waktu dengan Asep dalam suasana yang lebih santai, mungkin dengan berjalan-jalan di taman atau duduk di kafe. Namun, Tita tidak bisa menolak. Asep adalah sosok yang ia kagumi, jadi apa pun permintaan Asep, ia turuti.

Hari-hari berikutnya, setiap kali Tita datang, Asep selalu menawarinya untuk belajar. Alih-alih berbicara tentang hal-hal pribadi, Asep mengajak Tita mendalami tata bahasa, kosa kata, dan membuat percakapan dalam bahasa Inggris. Di awal, Tita tampak masih bersemangat, meskipun kecewa. Namun, perlahan-lahan, raut wajahnya berubah. Tita mulai merasa bahwa Asep menjauhkannya dengan cara yang tak langsung.

“Asep, kita nggak bisa ngobrol yang lain, ya? Masa belajar terus sih? Aku pengen ngobrol-ngobrol santai,” kata Tita suatu hari.

Asep tersenyum tipis, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang. “Kalau kita bisa berbagi ilmu, itu lebih baik. Percaya deh, bahasa Inggris akan berguna untuk kamu nanti.”

Tita menghela napas. Di sisi lain, Asep sadar bahwa Tita mungkin kecewa. Tapi ia merasa ini cara yang terbaik. Ia tak ingin melukai hati Tita dengan menolaknya secara langsung. Dalam pikirannya, jika ia terus mengarahkan Tita ke hal-hal yang lebih akademis, perasaan romantis yang mungkin ada di hati gadis itu akan pudar dengan sendirinya.

Dan benar saja, semakin sering Tita datang untuk belajar, semakin sedikit ia menunjukkan antusiasme. Ketika Asep menambahkan latihan listening dari kaset tua, Tita mulai bosan. Keinginannya untuk dekat dengan Asep dalam suasana yang lebih intim terhalang oleh deretan kata kerja tidak beraturan dan kalimat-kalimat contoh yang membosankan.

Hingga suatu hari, Tita berhenti datang ke rumah. Asep menyadari perubahan itu. Di satu sisi, ia merasa lega. Rencana halusnya berhasil. Pikiran romantis Tita yang dulu tampak menggebu-gebu, perlahan terkikis oleh tumpukan pelajaran dan aturan tata bahasa.

Namun di sisi lain, ada sedikit rasa hampa yang ia rasakan. Selama beberapa waktu, kehadiran Tita telah menjadi bagian dari rutinitasnya. Tapi, Asep tahu, ini lebih baik. Tita akan menemukan seseorang yang bisa membalas perasaannya dengan tulus, sementara Asep bisa kembali fokus pada mimpinya tanpa beban perasaan yang mengganggu.

Di satu sudut kamarnya, Asep meraih buku catatan yang pernah ia gunakan untuk mengajar Tita. Ia membuka halaman-halaman yang penuh coretan latihan, kata-kata dalam bahasa Inggris yang tak pernah diselesaikan, dan catatan kecil Tita di ujung halaman. “Mungkin aku bisa menjadi guru yang baik suatu hari nanti,” gumamnya pada diri sendiri.

Dan di sanalah Asep, menyadari bahwa cinta tak selalu harus dijawab dengan cinta. Kadang, cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu adalah dengan mengarahkannya ke jalan yang lebih baik, meski itu berarti harus melepaskan seseorang dari hidupmu.