Waktu itu, matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, dan aku duduk di sebuah bangku taman yang sering menjadi tempat pelarian pikiranku. Angin sore berhembus lembut, seolah ingin menghiburku, membelai wajah yang kini dipenuhi oleh keheningan. Sesekali, daun-daun kering berjatuhan, seperti simbol waktu yang terus berlalu tanpa bisa kupegang. Aku hanya bisa menatapnya, tak mampu menghentikan setiap detik yang terus melaju.
Kehidupan ini memang terus bergulir, seperti roda yang tiada henti berputar. Aku menyadari bahwa aku tak bisa kembali ke masa lalu, walaupun hanya untuk satu detik saja. Kenangan adalah hal terindah sekaligus tersulit. Terkadang aku tersenyum ketika mengingat masa-masa itu, namun tak jarang ada air mata yang menetes ketika aku mengenang momen-momen yang tak mungkin terulang. Ada perasaan rindu yang tak terjelaskan, bukan hanya pada orang-orang yang pernah hadir, tapi juga pada diriku yang dulu. Diriku yang lebih muda, yang penuh semangat dan harapan.
Di masa lalu, aku menjalani hidup dengan begitu banyak cerita—beberapa mengajarkan kebijaksanaan, dan beberapa membuatku menertawai diriku sendiri. Ada momen di mana aku merasa seperti pahlawan dalam kehidupanku sendiri, membuat keputusan-keputusan besar yang mengubah jalan hidupku. Namun, ada juga saat-saat di mana aku merasa begitu kecil, kalah oleh perasaan takut dan ragu-ragu.
Kadang, di malam yang sunyi, aku teringat pada masa-masa itu. Aku menulis puisi atau cerpen sebagai cara untuk kembali, walau hanya dalam imajinasiku. Aku ingin mengabadikan kenangan itu dalam bentuk kata-kata, seolah-olah dengan menulis, aku bisa menghidupkan kembali momen-momen yang telah berlalu. Setiap kata yang kutulis, setiap prosa yang kurangkai, adalah pintu gerbang menuju masa lalu yang tak bisa kucapai lagi. Aku sering kali merasa ingin bertemu diriku yang dulu, ingin memberi tahu dia bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa apapun yang terjadi, aku akan belajar dari setiap pengalaman itu.
Namun, waktu terus berjalan, dan aku harus melangkah maju. Setiap orang yang terlahir ke dunia ini punya cerita hidupnya sendiri, begitu pula denganku. Aku telah mengukir banyak cerita dalam hidupku, dan suatu saat, ketika waktuku habis, tak ada lagi cerita yang bisa kutulis. Saat itu, aku hanya bisa berharap bahwa cerita-ceritaku akan tetap hidup dalam kenangan orang-orang yang pernah mengenalku. Mungkin mereka akan mengingatku dengan senyuman, atau mungkin dengan air mata. Entahlah, tapi aku ingin percaya bahwa jejak yang kutinggalkan akan tetap ada.
Masa lalu adalah bagian dari diriku, namun masa depanlah yang kini menantiku. Meski begitu, aku akan selalu kembali, walau hanya dalam tulisan, untuk mengenang apa yang pernah kurasakan, apa yang pernah kualami. Karena dalam kenangan itulah, aku menemukan diriku yang sejati.