Dialog antara Sri Krishna dan Arjuna dalam Bhagavad Gita dimulai ketika Arjuna menghadapi krisis moral dan spiritual di medan perang Kurukshetra. Ini terjadi dalam konteks perang besar antara dua kelompok keluarga, yaitu Pandawa (kelompok Arjuna) dan Kurawa (saudara-saudaranya yang lain). Meskipun Arjuna adalah ksatria yang berani dan berpengalaman, ketika tiba saatnya untuk memulai perang, ia dilanda kebingungan dan keraguan yang mendalam.
Awal mula dialog ini terjadi dalam Bab 1 dan Bab 2 dari Bhagavad Gita:
Pandangan Arjuna terhadap medan perang: Dalam Bab 1, Arjuna meminta Sri Krishna, yang berperan sebagai kusir keretanya, untuk membawa kereta ke tengah-tengah medan perang. Dari sana, Arjuna dapat melihat kedua pasukan yang bersiap-siap untuk bertempur. Arjuna melihat di antara prajurit-prajurit tersebut, banyak anggota keluarga, teman, dan guru-gurunya. Hal ini menimbulkan dilema batin yang mendalam di dalam dirinya.
Krisis Moral Arjuna: Setelah melihat keluarga dan kerabatnya berada di kedua sisi, Arjuna mulai merasakan ketidaknyamanan. Ia merasa bahwa membunuh orang-orang yang ia cintai demi kemenangan di medan perang adalah salah. Dia mulai mempertanyakan moralitas dari perang tersebut, meskipun perang ini adalah tugasnya sebagai ksatria (kasta ksatria diwajibkan untuk melindungi kebenaran dan bertarung melawan ketidakadilan). Dalam kondisi batinnya yang penuh gejolak, Arjuna merasa bahwa membunuh orang-orang yang ia cintai akan menyebabkan dosa besar dan menghancurkan tatanan sosial.
Arjuna Menolak Bertempur: Arjuna diliputi oleh emosi dan kebingungan. Ia mengalami konflik batin yang hebat antara kewajiban dan perasaan kasih sayang terhadap keluarga dan teman-temannya. Akibat dari kebingungannya, Arjuna meletakkan busur dan anak panahnya, menolak untuk bertempur, dan meminta nasihat dari Sri Krishna.
Permohonan Bantuan dari Krishna: Arjuna berkata kepada Sri Krishna bahwa dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa sangat lemah, tidak bisa memahami jalan mana yang benar, dan memohon kepada Krishna untuk menuntunnya. Ini adalah titik di mana Arjuna menyerahkan dirinya kepada Krishna sebagai murid, meminta petunjuk dan bimbingan dalam menghadapi dilema besar ini.
Ajaran Sri Krishna Dimulai: Di Bab 2, dialog yang mendalam antara Krishna dan Arjuna dimulai. Krishna pertama-tama menegur Arjuna atas kelemahan dan keraguannya, menyebut bahwa hal itu tidak pantas bagi seorang ksatria yang mulia. Krishna kemudian mulai mengajarkan tentang Atman (jiwa yang abadi) dan menjelaskan bahwa tubuh hanyalah sementara, sedangkan jiwa tidak dapat dibunuh atau dihancurkan. Krishna menegaskan bahwa kematian di medan perang bukanlah akhir, karena jiwa tidak pernah mati. Ia juga menegaskan pentingnya menjalankan dharma (kewajiban) tanpa terikat pada hasilnya.
Dari sinilah ajaran-ajaran filosofis dan spiritual yang luas dalam Bhagavad Gita berkembang. Dialog ini mencakup konsep-konsep seperti karma (tindakan tanpa keterikatan), bhakti (pengabdian), yoga (jalan spiritual), dan pengetahuan tentang diri sejati. Krishna memberikan berbagai perspektif untuk mengatasi krisis yang dihadapi Arjuna dan mengarahkannya pada pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan, kematian, dan tugas.