Pernyataan Socrates tentang Ketuhanan

144x dibaca
Apa yang pernah diajarkan oleh Socrates tentang filsfat Ketuhanan?

Socrates, seorang filsuf Yunani kuno, tidak secara langsung mengajarkan filsafat Ketuhanan dalam cara sistematis seperti yang mungkin kita temukan dalam tradisi agama atau teologi formal. Namun, pemikirannya memberikan kontribusi penting pada diskusi tentang keberadaan dan sifat Tuhan melalui pendekatan filosofis dan etisnya. Beberapa pandangannya terkait dengan filsafat Ketuhanan meliputi:

  1. Keterbatasan Pengetahuan Manusia tentang Tuhan: Socrates dikenal dengan pernyataan "Saya hanya tahu bahwa saya tidak tahu." Ia sering menekankan bahwa manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, termasuk dalam memahami hakikat Tuhan atau ilahi. Hal ini tercermin dalam sikapnya yang terbuka terhadap misteri ketuhanan, yang berarti ia tidak pernah mengklaim memiliki jawaban pasti tentang Tuhan, namun menantang orang lain untuk memeriksa keyakinan mereka.

  2. Konsep Tuhan sebagai Pencipta yang Baik: Dalam dialog-dialog Plato (muridnya), seperti dalam Euthyphro dan Apology, Socrates menyiratkan bahwa Tuhan itu baik dan tidak mungkin melakukan kejahatan. Ia percaya bahwa tindakan manusia harus sesuai dengan apa yang dianggap baik oleh Tuhan, dan bahwa kejahatan tidak mungkin berasal dari Tuhan. Ini menekankan moralitas sebagai inti dari sifat Tuhan.

  3. Hubungan Antara Moralitas dan Tuhan: Socrates mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hubungan antara moralitas dan kehendak Tuhan. Misalnya, dalam dialog Euthyphro, Socrates bertanya apakah sesuatu dianggap baik karena diperintahkan oleh Tuhan, atau apakah Tuhan memerintahkan hal-hal yang baik karena memang intrinsik baik. Pertanyaan ini telah menjadi dasar dari apa yang sekarang dikenal sebagai "Dilema Euthyphro", yang masih diperdebatkan dalam filsafat agama.

  4. Pertanyaan tentang Jiwa dan Kehidupan Setelah Mati: Dalam dialog Apology dan Phaedo, Socrates juga membahas keyakinan bahwa jiwa manusia bersifat kekal dan akan bertahan setelah kematian. Ini memberikan kesan bahwa ia percaya pada beberapa bentuk tatanan ilahi atau kehidupan setelah kematian, yang dapat dipahami sebagai bagian dari pandangan religiusnya.

  5. Ketaatan kepada Tuhan di Atas Hukum Manusia: Socrates sering menekankan bahwa ketaatan kepada kehendak Tuhan lebih penting daripada ketaatan kepada hukum manusia. Dalam Apology, ia menyatakan bahwa jika hukum negara memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, ia akan menolak untuk menaati hukum tersebut.

Meskipun Socrates tidak merumuskan doktrin tentang Tuhan secara teologis, ajarannya memengaruhi cara orang memikirkan tentang hubungan antara etika, jiwa, dan yang ilahi. Pemikirannya menjadi dasar bagi murid-muridnya, seperti Plato dan Aristoteles, yang kemudian memperdalam dan mengembangkan pandangan tentang ketuhanan dan metafisika.