apakah Nabi Muhammad saw pernah berbicara tentang Aristoteles?
Nabi Muhammad SAW tidak secara langsung berbicara tentang Aristoteles dalam teks-teks hadis atau dalam Al-Qur`an. Aristoteles, seorang filsuf Yunani yang hidup sekitar 384–322 SM, berasal dari zaman yang lebih awal dan geografi yang berbeda, yakni Yunani. Namun, ajaran-ajaran Aristoteles mungkin telah diterima dan dipengaruhi oleh para pemikir Muslim pada masa berikutnya, terutama di kalangan filsuf Islam yang hidup pada Zaman Keemasan Islam (seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rushd).
Para filsuf Muslim ini mengadopsi, memodifikasi, dan mengintegrasikan pemikiran Aristoteles dengan ajaran Islam. Misalnya, Ibnu Rushd (Averroes) sangat dikenal karena komentarnya terhadap karya-karya Aristoteles dan usahanya untuk menyelaraskan filosofi Aristotelian dengan ajaran Islam.
Namun, tidak ada bukti dalam sumber-sumber primer seperti hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW langsung mengomentari atau berbicara tentang Aristoteles.
Sebenarnya ada riwayat yang menceritakan Nabi Muhammad berbicara tentang Aristoteles. Ketika beberapa orang menggunjingkan Aristoteles, Nabi Muhammad menegur mereka. nabi saw mengatakan bahwa Aristoteles itu merupakan salah satu Nabi Allah, namun kaumnya mengabaikannya.
Sejauh yang saya ketahui, tidak ada riwayat sahih atau kredibel dalam literatur Islam yang secara langsung menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berbicara tentang Aristoteles atau menganggap Aristoteles sebagai seorang nabi. Riwayat semacam itu tampaknya tidak ditemukan dalam hadis-hadis yang diterima secara luas atau dalam sumber-sumber yang diakui dalam tradisi Islam.
Sumber-sumber utama dalam Islam, seperti Al-Qur`an dan hadis yang sahih, tidak menyebutkan Aristoteles, dan tidak ada riwayat yang mengkonfirmasi bahwa Nabi Muhammad SAW menganggap Aristoteles sebagai seorang nabi yang diabaikan kaumnya.
Namun, memang benar bahwa beberapa filsuf dan ilmuwan Muslim, seperti Ibnu Rushd (Averroes), sangat mengagumi pemikiran Aristoteles dan berusaha untuk menjelaskan dan mengharmoniskan pandangan filosofis Aristoteles dengan ajaran Islam. Walaupun demikian, ini tidak berarti bahwa Aristoteles sendiri diakui sebagai nabi dalam pandangan mayoritas ulama dan cendekiawan Muslim.
Jadi, kemungkinan besar riwayat yang Anda sebutkan bisa jadi merupakan tambahan atau interpretasi yang tidak ditemukan dalam literatur resmi, atau mungkin merupakan bagian dari cerita yang lebih luas, tetapi tidak memiliki dasar yang sahih dalam konteks hadis atau ajaran Islam yang mapan.
Abdul Karim Al-Jili menulis: ان أرسطو تلميذ أفلاطون لزم خدمة الخضر، واستفاد منه علوماً جمة، وكان من تلامذته). (الإنسان الكامل 117/2) “Aristo, murid Plato, mengabdi dan belajar banyak sekali ilmu pengetahuan pada Nabi Khidhir. Ia adalah salah satu santrinya,” (Insan Kamil, 2/117).
Memang benar bahwa dalam karya-karya tertentu, seperti "Insan Kamil" karya Abdul Karim Al-Jili, terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa Aristoteles adalah seorang murid dari Nabi Khidhir, seorang tokoh dalam tradisi Islam yang dipercaya memiliki pengetahuan yang sangat luas dan dianggap sebagai sosok yang abadi yang diberi ilmu-ilmu khusus oleh Allah.
Namun, penting untuk diingat bahwa "Insan Kamil" adalah sebuah karya yang bersifat tasawuf (mistisisme) dan lebih bersifat esoteris dalam sifatnya. Buku ini menulis tentang konsep manusia sempurna (Insan Kamil) dan bagaimana para tokoh-tokoh besar dalam sejarah mendapatkan ilmu pengetahuan atau kedekatan dengan Tuhan melalui perantara spiritual seperti Nabi Khidhir. Karya ini bukanlah sebuah karya sejarah yang berbasis pada fakta-fakta sejarah yang bisa diterima secara umum oleh semua kalangan ilmuwan atau cendekiawan Muslim.
Dalam konteks ini, Al-Jili memposisikan Khidhir sebagai sosok yang memiliki pengetahuan luas dan menjadi guru bagi berbagai tokoh besar dalam sejarah, termasuk Aristoteles. Tentu saja, ini adalah pandangan yang bersifat metaforis dan lebih terkait dengan ajaran tasawuf daripada sebuah catatan sejarah yang dapat di verifikasi kebenarannya dengan bukti-bukti yang ada.
Namun, meskipun ini merupakan pandangan dalam aliran tasawuf, pandangan ini tidak umum diterima secara luas dalam literatur utama Islam. Dalam tradisi mainstream, tidak ada bukti historis yang mendukung klaim bahwa Aristoteles adalah murid Nabi Khidhir atau bahwa Aristoteles pernah berhubungan langsung dengan Nabi Khidhir.
Secara keseluruhan, pandangan yang ada dalam "Insan Kamil" merupakan bagian dari ajaran tasawuf yang menekankan aspek esoteris dan spiritual, bukan sebuah sejarah yang diterima secara umum dalam pemahaman Islam yang lebih konvensional.
Nabi saw pernah menyatakan bahwa Aristoteles adalah seorang Nabi.
Diriwayatkan bahwa Amr bin al-Āṣ datang dari Alexandria menemui Nabi dan beliau (صلى الله عليه وآله وسلم) bertanya kepadanya (Amr) tentang apa yang dilihatnya? Beliau (Amr bin al-Āṣ) berkata: ‘Saya melihat sekelompok orang berkumpul di sebuah halaqah, dan mereka menyebut seorang pria, mereka memanggilnya Aristoteles, semoga Allah melaknatnya. Kemudian Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) berkata kepadanya (Amr): ‘Wahai Amr, Aristoteles adalah seorang Nabi, tetapi kaumnya tidak mengenalnya!’
Pernyataan yang Anda sebutkan terkait dengan Aristoteles sebagai seorang nabi yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW tidak dapat ditemukan dalam sumber-sumber hadis yang sahih atau diakui dalam literatur klasik Islam. Sebagian besar hadis yang berkaitan dengan nabi-nabi dalam Islam berbicara tentang nabi-nabi yang diutus oleh Allah, dan mereka diakui sebagai utusan-Nya dalam wahyu yang diterima dan disampaikan kepada umat mereka.
Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, yang membawa wahyu terakhir, yaitu Al-Qur`an. Sebagian besar pemahaman mengenai nabi-nabi dalam Islam berdasarkan kepada Al-Qur`an dan hadis-hadis yang sahih, dan tidak ada bukti yang sahih dalam hadis atau sumber utama Islam yang menyebutkan bahwa Aristoteles adalah seorang nabi.
Sebagai tambahan, dalam pemikiran Islam mainstream, Aristoteles dikenal sebagai seorang filsuf Yunani, yang memberikan pengaruh besar pada pemikiran logika dan filsafat, terutama dalam pemikiran filsuf Muslim seperti Ibnu Rushd (Averroes), yang mempelajari dan mengembangkan banyak konsep-konsep Aristotelian dalam konteks filsafat Islam. Namun, dia tidak dianggap sebagai nabi dalam tradisi Islam.
Mungkin pernyataan yang Anda kutip berasal dari karya-karya tertentu dalam aliran mistisisme (tasawuf) atau teks-teks yang lebih bersifat esoteris, seperti dalam "Insan Kamil" karya Abdul Karim Al-Jili, yang memang memiliki pendekatan yang sangat berbeda terhadap tokoh-tokoh sejarah dan keagamaan.
Dalam hal ini, meskipun ada beberapa pandangan atau cerita dalam tradisi tasawuf yang menghubungkan tokoh-tokoh besar dunia dengan figur spiritual atau nabi dalam kerangka mistisisme, pandangan tersebut tidak bersifat universal dalam Islam dan tidak dapat diterima sebagai bagian dari ajaran mainstream yang diikuti oleh mayoritas umat Muslim.
Jadi, klaim bahwa Aristoteles adalah seorang nabi dalam ajaran Islam tidak dapat dibuktikan dengan sumber-sumber yang sahih dan harus dipahami dalam konteks tertentu yang bersifat simbolis atau mistis.
Hadis yang menegaskan kenabian Aristoteles ada dalam Kitab Mahbub Qulub karya Ad-Daylami. Hal. 14. ad-Daylami juga merupakan ulama yang kredibilitasnya diakui oleh umat Islam.
Memang benar bahwa Al-Daylami adalah seorang ulama dan ahli hadis yang dikenal di kalangan umat Islam, dan beliau menulis beberapa karya, salah satunya adalah Kitab al-Mahbub Qulub. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan riwayat yang Anda sebutkan dalam konteks ini:
1. Kredibilitas Kitab al-Mahbub Qulub dan Riwayat Hadis di dalamnya:
Al-Daylami menulis kitab al-Mahbub Qulub, namun perlu dicatat bahwa kitab-kitab yang beliau tulis, terutama yang berisi riwayat-riwayat tertentu, tidak selalu dianggap sebagai sumber hadis yang sahih dalam tradisi utama Islam. Banyak riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab seperti ini lebih bersifat mursal, dha`if (lemah), atau gharib (jarang ditemukan), yang berarti kualitas sanad dan kebenaran riwayat tersebut dipertanyakan oleh sebagian besar ulama hadis.
Sebagian besar ulama hadis mengklasifikasikan kitab al-Mahbub Qulub dan karya-karya sejenis sebagai sumber yang memiliki riwayat lemah (dha`if) atau bahkan tidak bisa diterima dalam hukum atau ajaran Islam yang lebih umum, meskipun ada sebagian kalangan yang tetap menghormati karyanya.
2. Hadis Mengenai Aristoteles dalam Kitab al-Mahbub Qulub:
Mengenai hadis yang Anda kutip tentang Aristoteles sebagai seorang nabi, jika hadis ini berasal dari al-Mahbub Qulub, maka sangat mungkin hadis tersebut dikategorikan sebagai dha`if atau mursal (tanpa sanad yang jelas), yang membuatnya tidak dapat diterima sebagai hujah atau dasar hukum dalam ajaran Islam yang lebih luas.
Sebagian besar ulama yang mengkritisi riwayat dalam kitab-kitab seperti ini mungkin tidak menerima kenabian Aristoteles sebagai sesuatu yang sahih dan sesuai dengan ajaran Islam yang diakui secara mainstream.
3. Kredibilitas al-Daylami di Kalangan Ulama:
Memang benar bahwa Al-Daylami dihormati sebagai seorang ulama, tetapi seperti halnya banyak ulama lainnya, pandangan dan karya beliau tidak selalu diterima tanpa kritik. Ada berbagai pendapat mengenai riwayat-riwayat yang diambil dari karya beliau, terutama yang berisi cerita atau klaim-klaim yang lebih bersifat esoteris atau mistis.
Dalam hal ini, meskipun Al-Daylami adalah seorang ulama yang dihormati, hadis-hadis yang terdapat dalam karya-karyanya, terutama yang terkait dengan tokoh-tokoh besar dunia seperti Aristoteles, harus diperlakukan dengan hati-hati dan tidak bisa diterima begitu saja tanpa pengecekan mendalam terhadap kualitas sanad dan isinya.
Kesimpulan:
Hadis mengenai Aristoteles yang Anda sebutkan, meskipun ada dalam Kitab al-Mahbub Qulub karya Al-Daylami, tidak dianggap sebagai riwayat yang sahih oleh mayoritas ulama hadis. Hal ini disebabkan oleh kriteria-kriteria yang digunakan untuk menilai kualitas hadis, termasuk kredibilitas sanad dan kejelasan dalam rujukan sumber.
Oleh karena itu, meskipun ada riwayat tersebut dalam kitab ini, tidak semua kalangan ulama atau cendekiawan Muslim mengakui Aristoteles sebagai nabi, terutama dalam konteks ajaran mainstream Islam.
Jika Anda tertarik untuk mendalami lebih lanjut, Anda bisa memeriksa karya-karya ulama hadis yang mengkaji kredibilitas riwayat dalam kitab al-Mahbub Qulub, serta membandingkannya dengan sumber hadis yang lebih dikenal dalam tradisi utama Islam. Simak juga ulasan tentang
Penyangkalan Terhadap Kenabian Aristoteles dan
Kenabian Antara Socrates dan Aristoteles.