Puisi Untuk Nona Rasya

96x dibaca

Di SMA dulu, aku adalah salah satu siswa yang paling sering menempelkan karya tulis di mading sekolah—majalah dinding tempat kreativitas siswa diekspresikan. Di sana, semua orang bebas menempelkan apa saja, puisi, cerita pendek, atau bahkan tulisan-tulisan iseng yang tak lebih dari ocehan. Tapi aku memilih puisi. Bukan karena aku lebih puitis dari yang lain, tapi karena puisi adalah cara terbaik untuk menyuarakan perasaanku yang tak tersampaikan.

Banyak yang menyukai puisiku. Ibu guru wali kelas bahkan pernah memuji tulisanku dalam sebuah pertemuan kelas. Dia bilang puisiku memiliki jiwa. Teman-teman pun sering membaca dan memuji karya-karyaku, walau tak semuanya paham maknanya. Tapi di balik semua itu, hanya ada satu orang yang benar-benar menjadi alasan setiap bait yang kutulis.

Nona Rasya.

Ya, namanya memang "Nona," bukan sekadar panggilan hormat. Dia teman sekelasku, cantik dan anggun, dengan senyum yang selalu membuat jantungku berdegup lebih kencang. Setiap puisi yang kutulis, setiap kata yang kurangkai, semuanya untuknya. Namun, aku tak pernah berani mengatakan bahwa puisiku adalah ungkapan perasaanku untuknya.

Kenapa?

Karena Nona Rasya sudah ada yang punya. Dia pacar Didit, temanku satu kelas. Didit orangnya baik, ramah, dan selalu menjaga Nona dengan penuh perhatian. Mereka adalah pasangan sempurna di mata semua orang. Tapi bagiku, ada perih yang tak pernah hilang setiap kali melihat mereka bersama. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada pacar teman sendiri? Aku sering bertanya-tanya, apakah aku salah jatuh cinta pada orang yang sudah punya kekasih, atau apakah aku hanya jatuh cinta pada orang yang salah?

Tapi cinta, rupanya, tidak kenal benar atau salah.

Setiap kali aku menempelkan puisi baru di mading, Nona Rasya selalu membacanya. Dan setiap kali, dia memujiku. "Puisimu sangat indah," katanya, "Aku suka sekali cara kamu merangkai kata-kata." Hatiku melambung mendengarnya, tapi aku tak pernah tahu apakah dia mengerti atau tidak bahwa semua puisi itu untuk dia. Aku hanya diam. Aku tidak berani berterus terang. Rasa takut kehilangan pertemanan dan kenyamanan yang kami punya lebih besar dari keberanianku untuk mengungkapkan perasaan ini.

Waktu berlalu. Kami lulus SMA. Nona Rasya dan Didit putus beberapa bulan sebelum kelulusan. Untuk sesaat, harapan yang sudah lama kupendam mulai membara lagi. Mungkin, inilah kesempatan yang kutunggu. Mungkin, aku bisa mengatakan semuanya sekarang. Namun, sekali lagi aku kalah oleh kebisuanku sendiri. Aku membiarkan waktu berlalu, sampai akhirnya kami berpisah untuk melanjutkan hidup masing-masing.

Setelah lulus kuliah, kami masih sesekali bertemu di acara-acara reuni. Aku masih menyimpan perasaanku, menunggu saat yang tepat. Tapi ternyata, takdir berkata lain. Suatu hari, kabar mengejutkan datang. Nona Rasya akan menikah. Bukan dengan Didit, bukan dengan siapapun yang aku kenal dari masa lalu kami. Namanya Rendra, pria yang tak pernah muncul dalam cerita hidupku sebelumnya.

Aku diundang ke pesta pernikahannya. Dengan hati yang remuk, aku datang, berdiri di sudut ruangan, melihatnya bersanding dengan pria yang bukan aku. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tetap sama seperti yang kulihat dulu di bangku SMA. Tapi hari itu, senyum itu bukan untukku. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku tahu, aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bersamanya. Bukan Didit yang menjadi jodohnya, dan yang lebih menyakitkan, ternyata bukan aku juga.

Sejak hari itu, aku mencoba melanjutkan hidup. Teman-teman mulai menikah satu per satu, dan mereka sering bertanya kapan giliranku. Tapi aku hanya tersenyum dan menghindar. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang lain, ketika hatiku masih tertambat pada seseorang yang sudah tak mungkin kumiliki?

Aku tetap menulis puisi, namun kini tanpa nama penerima yang jelas. Kata-kataku tetap mengalir, namun tidak lagi untuk Nona Rasya. Setiap bait yang kutulis hanyalah upaya untuk menyembuhkan luka yang tak kunjung sembuh. Mungkin, pada akhirnya, aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada orang yang salah. Aku hanya jatuh cinta pada seseorang yang tidak ditakdirkan untukku.

Namun, dalam diam, aku masih menanti. Entah apa yang kutunggu, karena aku tahu jalan menuju cinta itu sudah tertutup rapat. Tapi inilah cinta, perasaan yang tidak pernah benar-benar mati. Meski aku tahu, aku takkan pernah bisa menikah dengannya, hatiku tetap setia padanya.

Dan sampai kapanpun, puisi-puisiku akan selalu menjadi miliknya.