Visitor Counter
43.577
1t
terima kasih kang asep, artikel2nya bermanfaat buat saya..
1t
iya @arya, sama-sama. terimakasih juga telah mampir ke sini!
1t
hallo kang Asep.. saya cari-cari berguru.me, kok gak ada ya?
10b
Berguru.me sudah hilang.
4b

Tak Disangka

SMA kami adalah sekolah yang sederhana di pinggir kota. Banyak cerita yang lahir di sana—tentang cinta, persahabatan, hingga masa-masa pencarian jati diri. Di situlah, pada suatu hari yang tidak pernah akan kulupakan, aku mengenal Sarifah—atau yang lebih akrab dipanggil Ifah. Dia kakak kelasku, dua tahun di atasku, sudah duduk di kelas tiga. Aku sendiri masih kelas satu, berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di SMA.

Ifah dan aku sebenarnya tidak terlalu dekat pada awalnya. Namun, entah bagaimana, mungkin karena kebiasaanku nongkrong di perpustakaan sepulang sekolah atau kebetulan-kebetulan kecil lainnya, kami sering berjumpa. Mulanya hanya sapa, lalu berujung pada obrolan yang semakin panjang.

Suatu sore yang mendung, Ifah terlihat agak gelisah saat kami duduk bersama di taman sekolah. Aku bisa merasakan bahwa ada yang mengganjal di hatinya.

"Sep, boleh curhat?" tanyanya dengan suara pelan. Aku mengangguk.

Ifah mulai bercerita bahwa ada seorang laki-laki yang dia sukai. Laki-laki itu seakan tidak menyadari keberadaan Ifah, dan meskipun dia telah berusaha mendekat, tak ada tanda-tanda bahwa perasaannya terbalas.

Saat itu, aku masih sangat polos. Tapi karena di masa itu aku percaya pada hal-hal mistis, terutama ilmu klenik yang kadang dibicarakan teman-temanku, tanpa pikir panjang aku berkata, "Kenapa nggak coba pakai ilmu pelet aja, If?"

Mata Ifah tiba-tiba berbinar. "Ilmu pelet?" tanyanya penuh harap.

"Iya," jawabku. "Aku punya catatan mantra pelet dari teman. Katanya bisa bikin orang jatuh cinta kalau rajin dibaca. Mau coba?"

Ifah tampak ragu sejenak, tapi kemudian tersenyum lebar. "Boleh, Sep. Kasih tahu aku caranya!"

Aku memberinya secarik kertas kecil berisi mantra yang kutulis dengan tergesa. Aku tak terlalu yakin apakah itu benar-benar akan berhasil, tetapi melihat wajah Ifah yang penuh harapan, aku merasa seolah-olah telah memberinya solusi yang sempurna.

Sebulan berlalu. Hari-hari berjalan seperti biasa, hingga suatu hari Ifah menemuiku lagi. Kali ini wajahnya tidak berseri seperti sebelumnya.

"Sep, mantra yang kamu kasih nggak berhasil," katanya dengan nada kecewa.

Aku terdiam, merasa sedikit bersalah. "Mungkin kamu kurang tekun," jawabku sekenanya. "Coba terus. Siapa tahu memang butuh waktu lebih lama."

Namun, di balik rasa penasaran, aku tak bisa menahan diriku untuk bertanya, "Siapa sebenarnya laki-laki itu, If? Mungkin aku bisa bantu lebih dari ini."

Ifah hanya tersenyum samar, lalu menggeleng. "Nggak usah, Sep. Nanti kamu juga tahu sendiri."

Aku merasa bingung. Siapa laki-laki yang begitu memikat hati Ifah hingga dia rela melakukan hal-hal klenik seperti itu? Tetapi Ifah tetap merahasiakannya, membuatku semakin penasaran.


Tiga hari setelah obrolan itu, aku berjumpa dengan Aisyah, salah satu teman Ifah yang juga sering berinteraksi denganku. Di tengah percakapan ringan kami, Aisyah tiba-tiba berkata, "Sep, kamu tahu nggak, Ifah rajin banget ngebaca mantra pelet yang kamu kasih."

Aku tersenyum canggung. "Iya, dia bilang begitu. Tapi katanya nggak berhasil."

Aisyah mendekat, menatapku tajam, seakan ingin memastikan aku paham apa yang akan dia katakan. "Kamu tahu siapa laki-laki yang dia maksud, Sep?"

Aku menggeleng. "Ifah nggak pernah mau bilang."

Aisyah menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara pelan, "Kamu itulah laki-lakinya."

Dunia seakan berhenti berputar. Kata-kata Aisyah bergaung di kepalaku. Aku terdiam, lidahku kelu. Selama ini, Ifah yang bersikap biasa saja di depanku, yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda khusus, ternyata menyimpan perasaan itu.

"Serius kamu, Syah?" tanyaku akhirnya.

Aisyah mengangguk. "Dia benar-benar suka sama kamu, Sep. Tapi mungkin kamu nggak sadar."

Aku termenung, mencoba mencerna semua ini. Aku memang sering menghabiskan waktu dengan Ifah, mendengarkan ceritanya, tertawa bersama, dan merasa nyaman di dekatnya. Tapi aku tak pernah mengira bahwa rasa itu bisa menjadi lebih dari sekadar persahabatan. Dan aku yang dulu dengan polosnya memberikan catatan mantra pelet itu, tanpa menyadari bahwa Ifah berharap aku yang akan terpikat.

Perasaanku campur aduk. Di satu sisi, aku merasa bodoh karena tidak menyadari sinyal-sinyal kecil yang mungkin pernah Ifah tunjukkan. Di sisi lain, ada perasaan hangat yang muncul di hatiku—mungkin, mungkin saja, aku juga merasakan sesuatu untuk Ifah selama ini, hanya aku yang terlalu buta untuk menyadarinya.

Hari itu, aku pulang dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan. Aku teringat senyum Ifah, suaranya yang lembut saat memanggil namaku, dan bagaimana dia selalu ada ketika aku membutuhkan teman bicara.

Malam itu, aku tak bisa tidur. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membicarakan ini dengan Ifah? Atau biarkan semuanya berlalu begitu saja?

Yang jelas, satu hal yang kutahu: cinta kadang tak perlu diungkapkan lewat mantra atau ilmu klenik. Kadang, cinta hanya butuh keberanian untuk diakui.