Aku bisa mendengarmu,
Lembut suaramu memecah sunyi,
Namun jarak membentang, tak terelakkan,
Tangan ini tak pernah mampu menyentuhmu,
Seakan engkau hadir di antara kabut mimpi.
Mata ini nyaris tak bisa memandangmu,
Keindahan wajahmu bagai fatamorgana,
Hanya potretmu yang setia menemani,
Dalam ruang sepi yang tak berujung.
Setiap hari ku tatap senyummu yang beku,
Potret bisu yang menyimpan cerita,
Engkau ada, namun tak pernah ada,
Mengisi relung hati yang kosong dan hampa.
Meski tak tersentuh, engkau tetap abadi,
Dalam bait-bait rindu yang kubisikkan malam ini,
Semoga angin membawanya kepadamu,
Agar kau tahu, di sini aku menunggumu.